BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pematangan kematangan gonad dilakukan dengan kedua
cara. Yang pertama cara histologi dilakukan di laboratorium. Yang kedua cara
pengamatan morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula
dilakukan di lapangan. dari penelitian secara histologi akan diketahui anatomi
perkembangan gonad tadi lebih jelas dan mendetail, sedangkan hasil pengamatan
secara morfologi tidak akan sedetail cara histologi, namun cara morfologi ini
banyak dilakukan para peneliti. Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan
gonad dengan cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan
perkembangan gonad ikan betina lebih banyak diperhatikan dari pada ikan jantan
karena perkembangan diameter telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah
dilihat dari pada sperma yang terdapat di dalam testes.
Tingkat
kematangan gonad ialah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah
ikan itu berpijah. Tingkat kematangan gonad tertinggi akan didapatkan pada saat
pemijahan akan tiba. Tingkat kematangan gonad secara kuantitatif dapat
dinyatakan dengan suatu indeks kematangan gonad atau disebut juda indeks gonad
somatik.
Perkembangan
gonad merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Umumnya
pertambahan gonad pada ikan betina sebesar 10 - 25% dari berat tubuh dan pada
ikan jantan sebesar 5 – 10%. dalam biologi perikanan pencatatan perubahan atau
tahap - tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan -
ikan yang melakukan reproduksi atau tidak. Dari pengetahuan tingkat kematangan
gonad (TKG) akan didapatkan informasi, kapan satu jenis ikan memijah, baru
memijah atau sudah selesai memijah. Tiap - tiap spesies ikan pada waktu pertama
kali gonadnya menjadi masak tidak sama ukuranya. Demikian pula ikan yang sama
spesiesnya, apalagi spesies tersebut tersebar pada lintang yang perbedaanya
lebih dari 5 derajat.
1.1
Tujuan
Praktikum
Adapun
tujuan dari praktikum biologi reproduksi adalah agar mahasiswa memahami dan
mampu melakukan evaluasi dan perhitungan beberapa aspek biologi reproduksi ikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Faktor yang dapat mempengaruhi
fungsi produksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor
internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan
dan adanya ikan jantan. Adapun factor internal yaitu tersedianya cukup hormon
steroid dan gonadotropin baik GTHL dan GHZ yang cukup untuk memacu kematangan
gonad diikuti ovulasi serta pemijahan, ( Rustidja 2001 ).
Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan
dua cara, yang pertama cara histologi dilakukan di laboratorium. Yang kedua
cara pengamatan morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat
dilakukan di lapangan. Dari penelitian secara histologi akan diketahui anatomi
perkembangan gonad menjadi lebih jelas dan mendetail. Sedangkan hasil
pengamatan secara morfologi tidak akan sedetail cara histologi, namun cara
morfologi ini banyak dilakukan para peneliti. Morfologi gonad dan corak warna
digunakan untuk membedakan tingkat kematangan. Hal tersebut bermanfaat untuk
menentukan masa memijah secara umum dan menentukan langkah lanjut untuk
pengelolaannya. Akan tetapi kelemahannya adalah gonad yang telah ditentukan
dengan cara tersebut termasuk tingkat kematangan tinggi (Lam, 1983).
Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berdeda
– beda, tergantung konddisi lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau
kondisi tertentu setiap tahun. Ikan memiliki variasi luas dalam strategi
reproduksi agar keturunannya mampu bertahan hidup. Ada tiga segi reproduksi
yang paling menonjol : 1). Memijah bila mana energi cukup tersedia. 2). Memijah
dalam proses ketersediaan energi dan 3). Memikah dengan mengorbankan semua
fungsi yang lain, jika sesudah itu individu tersebut mati (Fujaya, 2005).
Tiap - tiap spesies ikan pada
waktu pertama kali gonadnya menjadi masak dan tidak sama ukuranya. Demikian
pula ikan yang sama spesiesnya. Lebih - lebih pada ikan yang sama spesiesnya
itu tersebar pada lintang yang perbedaanya lebih dari lima derajat maka akan
terdapat perbedaan ukuran dan umur ketika mencapai kematangan gonad untuk
pertama kalinya. Jadi faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad di daerah
bermusim empat ialah suhu dan makanan. Tetapi untuk daerah tropik suhu secara
relatif perubahannya tidak besar dan umunya gonad dapat masuk lebih cepat (Uma 2009).
Tahap kematangan adalah perkembangan sel telur
menjadi semakin besar, berisi kuning telur dan akan diovulasikan pada ikan yang
telah dewasa. Proses pematangan gonad pada ikan yang telah dewasa dan induk
sebenarnya terjadi mulai dalam masa oosit muda dan bukan dari calon telur.
Perkembangan gonad pada ikan betina umumnya disebut dengan istilah perkembangan
ovarium mempunyai tingkat perkembangan sejak masa pertumbuhan hingga masa
reproduksi yang dapat dikategorikan kedalam beberapa tahap. Jumlah tahapan
tersebut bervariasi bergantung kepada spesies maupun peneliti yang mengamati
perkembangan ovarium tersebut. Perkembangan ovarium bergantung pada tingkat
kematangan gonad pada tiap masingmasing waktu yang berbeda (Effendie, 1979).
BAB III
METODELOGI KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu praktikum kami lakukan
pada hari kamis, 24 April 2014 pukul
16.00 – 18.00 WIB yang bertempatan di Laboraturium Jurusan Budidaya Perairan,
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun
alat-alat dan bahan-bahan yang dapat mendukung berjalanya praktikum ini diantaranya
adalah : nampan/baki, peralatan bedah seperti, gunting, pisau dan alat-alat
tajam lainya, ikan sampel yaitu ikan Mujair Oreochromis mosambicha, timbangan untuk menimbang berat tubuh ikan,
menimbang berat gonat, alata tulis seperti, buku, pinsil, penggaris, cawan
petri dan lain sebagainya.
3.3 Cara Kerja
3.2.1 Indeks Kematangan Gonat, (IKG)
Ø Ikan
sampel diletakkan pada nampan, diukur panjang (mm) dan berat (gram).
Ø Diletakkan
kembali dalam nampan dengan kepala menghadap ke kiri, dibedah perut ikan secara
hati-hati, dengan menggunakan gunting runcing dan tajam, denga cara ditusukkan
gunting dari lubang anus. Digunting mengarah ke atas, kemudian mengarah ke
depan sampai ujung operculum dan terus turun kearah bawah.
Ø Gonad
(ovari) dikeluarkan secara hati-hati, jangan sampai ada bagian gonad yang
tertinggal. Kemudian gonad ditimbang dengan timbangan digital (ketelitian
tinggi 0,1 gram).
Ø Indeks
kematangan gonad dihitung dengan rumus TKG =(BG/(BI-BG)×100)
3.2.2 Tngkat Kematangan Gonad (TKG)
Ø Dipisahkan
ikan betina dan ikan jantan, diteliti lebih lanjut masing-masing tingkat
kematanganya.
Ø Untuk
melihat jenis kelaminya dengan jalan melihat gonad dengan cara dibedah.
Ø Diambil
gonadnya dan dipisahkan menurut kelaminnya, dan jangan sampai tercampur anatara
gonad tersebut.
Ø Gonad
dikelompokkan mulai dari yang terendah sampai yang tetinggi.
Ø Dideskripsikan
masing-masing keompok, misalmya ukuranya, beratnya, beratnya, testurnya, dan
lain-lain yang terlihat oleh kasat mata.
3.2.3 Penentuan Fekunditas
Ø Diukur
dan ditimbang berat ikan sampel.
Ø Dikeluarkan
ovari secara hati-hati dan ditimbang beratnya .
Ø Dipotong
masing – masing gonad ( sepasang ) sekurag-kurangnya menjadi 3 bagian (tengah,
depan dan belakang).
Ø Diambil
secar acak masing-masing bagian, dan ditimbang masing-masing bagian.
Ø Gonad
tersebut direndam dalam larutan berupa campuran 60 ml ethanol, 30 ml
formaldehyde dan 10 ml glacialacetid acid, agar mudah dipisah-pisahkan.
Ø Sampel
gonad diletakkan dalam cawan petri, dan dibelah secara hati-hati dan ikeluarkan
telur secara hati-hati ( jangan sampai ada telur yang pecah).
Ø Dihitung
jumlah telur.
Ø Sampel
telur tersebut dirata-ratakan.
Ø Dihitung
fekunditas dengan Rumus pertama FT=n.(Wt/Ws)
Rumus
ke dua FR=(n.Wt/Ws)/BW
3.4 Analisa Data
1. Indeks kematangan gonad
Sampel 1
Ikg =
=
=
3,09423 %
Sampel 2
Ikg =
=
=
2,44630 %
2. Fekunditas relatif
Sampel 1
FR
=
=
=
4,56207 butir/gram
Sampel 2
FR
=
=
=
5,63774 butir/gram
3. Fekunditas total
Sampel 1
FT =
n x
=
=
836 gram/butir
Sampel 2
FT =
n x
=
=
968 gram/butir
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
|
N
|
Pt
|
Bg
|
Bi
|
Wt
|
Ws
|
Bw
|
Pg
|
|
484 butir
|
25 cm
|
5 gr
|
183 gr
|
5 gr
|
0,8 gr
|
295 gr
|
64 cm
|
4.2
Pembahasan
Dari hasil pengamatan di atas bahwa untuk
pengamatan biologi reproduksi, pada sampel ikan mujair, untuk ikan pertama
dengan berat bobot 185, 25 gr, dan untuk
yang kedua dengan berat bobot 171, 70 g, kedua ikan ini di belah perutnya
kemudian dikeluarkan gonad yang ada dalam perutnya kemudian di bagi menjadi 3
bagian untuk dilakukan pengindentifikasian lebih lanjut, kemudian disetiap
bagian yang sudah di pisah-pisah tersebut, dilakukan penghitungan jumlah telur
yanga ada, hasil dari jumlah telur yang sudah dihitung dapat dilihat pada tabel
diatas.
Kita dapat mengetahui jika ikan yang
kita identifikasi apakah tingkat kematangan gonad dari ikan tersebut belum berkembang, sedang berkembang, matang,
sangat matang, bahkan salin, untuk ikan sampel yang kita amati untuk ikan
pertama hasilnya mendapatkan telur yang sangat matang artinya telur tersnut
siap untuk salin yag menunjukkan bahwa ikan tersebut siap untuk memijah hal ini
ditandai dengan warna kuning yang cerah kemudian jika di letakkan pada cawan
petri yang ada aquadestnya maka telur ikan tersebut mudah untuk memisahkan diri
antara telur yang satu dengan telur yang lainya.
Sedangkan untuk sampel yang kedua
hasilnya adalah ikan yang meiliki gonad yang sedang berkembang, hal ini bisa
ditandai dengan warna gonad yang memudar dan belum terpenuhi seolah gonanya
belum sempurna, kemudian jika diletakkan pada cawan petri yang berisikan air,
maka penghitungan gonad agak sedikit membutuhkan waktu yang lama, hal ini
disebabkan bahwa gonad ikan tersebut belum matang, terkadang pada saat
melakukan pemisahan gonad (menghitung gonad) banyak terdapat telur-telur yang
pecah karena susah untuk dipisah-pisahkan, karena masih terikat oleh
lendir-lendir yang membuat gonad tersebut kompak dan terikat satu sama lainya,
untuk gonad seperti ini berarti ikan tersebut belum siap untuk memijah.
Dalam praktikum ini fekunditas total dan fekunditas relatif juga
dihitung. Dengan tujuan untuk mengetahui kematangan lanjut ( tingkat kematang
akhir ), untuk fekunditas itu sendiri adalah jumlah telur dalam tubuh ikan
sampel dengan Rumus pertama FT=n.(Wt/Ws) Rumus ke dua FR=(n.Wt/Ws)/BW. Dimnan n
= jumlah telur rerata pada sub sampel, Wt = berat gonad seluruhnya (sepasang,
g), Ws = berat rerata sub sampel gond /ovari (g), dan BW = bobot tubuh ikan
tanpa gonad (g). Dan hasilnya untuk ikan pertama FT = 836, dan untuk FT =
793,76. Sedangkan untuk ikan kedua untuk nilai FT = 4, 7033, dan FR = 4,736.
Kematangan serta fersentase dari
volume gonad pada ikan tertentu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya
faktor makanan, kalau ikan tertentu menapatkan makanan yang mencukupi nutrisi
yang dibutuhkan oleh ikan tersebut, karena hal itudapat memicu kematangan gonad
ikan, kemudian lingkungan suhu, keasaman juga dapat mempengaruhi kematangn
gonad pada ikan tersebut, selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi fisik ikan
tersebut apakah ikan dalam keadaan stres atau normal.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari
hasil praktikum di atas adalah,
Ø
Gonad yang sudah siap memijah ( matang )
akan terlihat kuning dan mudah untuk dipisah-pisahkan ketika di dalam air.
Ø
Gonad yang belum matang ( dalam
berkembang ) akan berwarna kecoklatan belum terlihat sempurna menjadi telur
serta susah untuk dipisah-pisahkan meskipun dalam air.
Ø
Gonad yang diidenifikasi hanya setengah
dari jumlah total keseluruhan gonad.
Ø
Kematangan gonad dipengaruhi faktor
lingkungan dan faktor makanan.
5.2 Saran
Kedepannya
harus lebih baik, dan konsisten. Agar mendapatkan hasil yang lebi baik dan
memuaskan sesuai dengan harapan.
DAFTAR PUSTAKA
Effendie,
1979. Prinsip dan prosedur
statistika. Suatu pendekatan biometrik. Edisi
kedua. Gramedia Pustaka Utama: 748
hal.
Fujaya, 2005. Analisis hasil tangkapan
sumberdaya ikan ekor kuning (Caesio cuning)
.
University
Maritime Raja Ali Haji.
Lam, 1983 Ichthyologi I. Departemen Biologi
Perairan. Fakultas
Rustidja, 2001. FAO
Fish.
Tech. Pap. 101/1, ICLARM, Roma.: 255 pp.
Uma, 2009.
Perikanan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Introduction
to tropical fish stock assessment. Part 1 – Manual.
LAMPIRAN
Tabel. 4 Perhitungan
Fekunditas Total (FR)
|
no
|
n
|
Wt
|
Ws
|
FT= n.
(Wt/Ws)
|
|
1
|
418
|
5,5
|
2,75
|
836
|
|
2
|
484
|
4,1
|
2,05
|
968
|
Tabel. 5 Perhitungan
Fekunditas Relatif (FR)
|
no
|
n
|
Wt
|
Ws
|
BW
|
FR=(n.Wt/Ws)/BW
|
|
1
|
418
|
5,5
|
2,75
|
183,25
|
4,56207367
|
|
2
|
484
|
4,1
|
2,05
|
171,7
|
5,637740245
|
Tabel.6 perhitungan IKG
|
no
|
BG
|
BI
|
IKG=(BG/(BI-BG)x100
|
|
1
|
5,5
|
183,25
|
3,094233474
|
|
2
|
4,1
|
171,7
|
2,446300716
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar