Minggu, 04 Mei 2014

biologi reproduksi ikan mujair



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pematangan kematangan gonad dilakukan dengan kedua cara. Yang pertama cara histologi dilakukan di laboratorium. Yang kedua cara pengamatan morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula dilakukan di lapangan. dari penelitian secara histologi akan diketahui anatomi perkembangan gonad tadi lebih jelas dan mendetail, sedangkan hasil pengamatan secara morfologi tidak akan sedetail cara histologi, namun cara morfologi ini banyak dilakukan para peneliti. Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan gonad ikan betina lebih banyak diperhatikan dari pada ikan jantan karena perkembangan diameter telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma yang terdapat di dalam testes.
Tingkat kematangan gonad ialah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu berpijah. Tingkat kematangan gonad tertinggi akan didapatkan pada saat pemijahan akan tiba. Tingkat kematangan gonad secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu indeks kematangan gonad atau disebut juda indeks gonad somatik.
Perkembangan gonad merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Umumnya pertambahan gonad pada ikan betina sebesar 10 - 25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar 5 – 10%. dalam biologi perikanan pencatatan perubahan atau tahap - tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan - ikan yang melakukan reproduksi atau tidak. Dari pengetahuan tingkat kematangan gonad (TKG) akan didapatkan informasi, kapan satu jenis ikan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Tiap - tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya menjadi masak tidak sama ukuranya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya, apalagi spesies tersebut tersebar pada lintang yang perbedaanya lebih dari 5 derajat.



1.1  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum biologi reproduksi adalah agar mahasiswa memahami dan mampu melakukan evaluasi dan perhitungan beberapa aspek biologi reproduksi ikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Faktor yang dapat mempengaruhi fungsi produksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Adapun factor internal yaitu tersedianya cukup hormon steroid dan gonadotropin baik GTHL dan GHZ yang cukup untuk memacu kematangan gonad diikuti ovulasi serta pemijahan, ( Rustidja 2001 ).
Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara, yang pertama cara histologi dilakukan di laboratorium. Yang kedua cara pengamatan morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat dilakukan di lapangan. Dari penelitian secara histologi akan diketahui anatomi perkembangan gonad menjadi lebih jelas dan mendetail. Sedangkan hasil pengamatan secara morfologi tidak akan sedetail cara histologi, namun cara morfologi ini banyak dilakukan para peneliti. Morfologi gonad dan corak warna digunakan untuk membedakan tingkat kematangan. Hal tersebut bermanfaat untuk menentukan masa memijah secara umum dan menentukan langkah lanjut untuk pengelolaannya. Akan tetapi kelemahannya adalah gonad yang telah ditentukan dengan cara tersebut termasuk tingkat kematangan tinggi (Lam, 1983).
Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berdeda – beda, tergantung konddisi lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau kondisi tertentu setiap tahun. Ikan memiliki variasi luas dalam strategi reproduksi agar keturunannya mampu bertahan hidup. Ada tiga segi reproduksi yang paling menonjol : 1). Memijah bila mana energi cukup tersedia. 2). Memijah dalam proses ketersediaan energi dan 3). Memikah dengan mengorbankan semua fungsi yang lain, jika sesudah itu individu tersebut mati (Fujaya, 2005).

Tiap - tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya menjadi masak dan tidak sama ukuranya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya. Lebih - lebih pada ikan yang sama spesiesnya itu tersebar pada lintang yang perbedaanya lebih dari lima derajat maka akan terdapat perbedaan ukuran dan umur ketika mencapai kematangan gonad untuk pertama kalinya. Jadi faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad di daerah bermusim empat ialah suhu dan makanan. Tetapi untuk daerah tropik suhu secara relatif perubahannya tidak besar dan umunya gonad dapat masuk lebih cepat (Uma 2009).
Tahap kematangan adalah perkembangan sel telur menjadi semakin besar, berisi kuning telur dan akan diovulasikan pada ikan yang telah dewasa. Proses pematangan gonad pada ikan yang telah dewasa dan induk sebenarnya terjadi mulai dalam masa oosit muda dan bukan dari calon telur. Perkembangan gonad pada ikan betina umumnya disebut dengan istilah perkembangan ovarium mempunyai tingkat perkembangan sejak masa pertumbuhan hingga masa reproduksi yang dapat dikategorikan kedalam beberapa tahap. Jumlah tahapan tersebut bervariasi bergantung kepada spesies maupun peneliti yang mengamati perkembangan ovarium tersebut. Perkembangan ovarium bergantung pada tingkat kematangan gonad pada tiap masingmasing waktu yang berbeda (Effendie, 1979).

 
BAB III
METODELOGI KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
            Adapun waktu praktikum kami lakukan pada hari kamis, 24 April 2014  pukul 16.00 – 18.00 WIB yang bertempatan di Laboraturium Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala.

3.2 Alat dan Bahan
            Adapun alat-alat dan bahan-bahan yang dapat mendukung berjalanya praktikum ini diantaranya adalah : nampan/baki, peralatan bedah seperti, gunting, pisau dan alat-alat tajam lainya, ikan sampel yaitu ikan Mujair Oreochromis mosambicha,  timbangan untuk menimbang berat tubuh ikan, menimbang berat gonat, alata tulis seperti, buku, pinsil, penggaris, cawan petri dan lain sebagainya.

3.3 Cara Kerja
            3.2.1 Indeks Kematangan Gonat, (IKG)
Ø  Ikan sampel diletakkan pada nampan, diukur panjang (mm) dan berat (gram).
Ø  Diletakkan kembali dalam nampan dengan kepala menghadap ke kiri, dibedah perut ikan secara hati-hati, dengan menggunakan gunting runcing dan tajam, denga cara ditusukkan gunting dari lubang anus. Digunting mengarah ke atas, kemudian mengarah ke depan sampai ujung operculum dan terus turun kearah bawah.
Ø  Gonad (ovari) dikeluarkan secara hati-hati, jangan sampai ada bagian gonad yang tertinggal. Kemudian gonad ditimbang dengan timbangan digital (ketelitian tinggi  0,1 gram).
Ø  Indeks kematangan gonad dihitung dengan rumus TKG =(BG/(BI-BG)×100)
3.2.2 Tngkat Kematangan Gonad (TKG)
Ø  Dipisahkan ikan betina dan ikan jantan, diteliti lebih lanjut masing-masing tingkat kematanganya.
Ø  Untuk melihat jenis kelaminya dengan jalan melihat gonad dengan cara dibedah.
Ø  Diambil gonadnya dan dipisahkan menurut kelaminnya, dan jangan sampai tercampur anatara gonad tersebut.
Ø  Gonad dikelompokkan mulai dari yang terendah sampai yang tetinggi.
Ø  Dideskripsikan masing-masing keompok, misalmya ukuranya, beratnya, beratnya, testurnya, dan lain-lain yang terlihat oleh kasat mata.

3.2.3 Penentuan Fekunditas
Ø  Diukur dan ditimbang berat ikan sampel.
Ø  Dikeluarkan ovari secara hati-hati dan ditimbang beratnya .
Ø  Dipotong masing – masing gonad ( sepasang ) sekurag-kurangnya menjadi 3 bagian (tengah, depan dan belakang).
Ø  Diambil secar acak masing-masing bagian, dan ditimbang masing-masing bagian.
Ø  Gonad tersebut direndam dalam larutan berupa campuran 60 ml ethanol, 30 ml formaldehyde dan 10 ml glacialacetid acid, agar mudah dipisah-pisahkan.
Ø  Sampel gonad diletakkan dalam cawan petri, dan dibelah secara hati-hati dan ikeluarkan telur secara hati-hati ( jangan sampai ada telur yang pecah).
Ø  Dihitung jumlah telur.
Ø  Sampel telur tersebut dirata-ratakan.
Ø  Dihitung fekunditas dengan Rumus pertama FT=n.(Wt/Ws)
                                                Rumus ke dua FR=(n.Wt/Ws)/BW

3.4 Analisa Data
1.      Indeks kematangan gonad
Sampel 1
Ikg  =
       =
       = 3,09423 %
Sampel 2
Ikg  =
       =
       = 2,44630 %

2.      Fekunditas relatif
Sampel 1
FR  =
       =
       = 4,56207 butir/gram
Sampel 2
FR  =
       =
       = 5,63774 butir/gram

3.      Fekunditas total
Sampel 1
FT   = n x
       =
       = 836 gram/butir
Sampel 2
FT   = n x
       =
       = 968 gram/butir




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
N
Pt
Bg
Bi
Wt
Ws
Bw
Pg
484 butir
25 cm
5 gr
183 gr
5 gr
0,8 gr
295 gr
64 cm
           

4.2 Pembahasan
            Dari  hasil pengamatan di atas bahwa untuk pengamatan biologi reproduksi, pada sampel ikan mujair, untuk ikan pertama dengan berat bobot 185, 25 gr, dan  untuk yang kedua dengan berat bobot 171, 70 g, kedua ikan ini di belah perutnya kemudian dikeluarkan gonad yang ada dalam perutnya kemudian di bagi menjadi 3 bagian untuk dilakukan pengindentifikasian lebih lanjut, kemudian disetiap bagian yang sudah di pisah-pisah tersebut, dilakukan penghitungan jumlah telur yanga ada, hasil dari jumlah telur yang sudah dihitung dapat dilihat pada tabel diatas.
            Kita dapat mengetahui jika ikan yang kita identifikasi apakah tingkat kematangan gonad dari ikan tersebut  belum berkembang, sedang berkembang, matang, sangat matang, bahkan salin, untuk ikan sampel yang kita amati untuk ikan pertama hasilnya mendapatkan telur yang sangat matang artinya telur tersnut siap untuk salin yag menunjukkan bahwa ikan tersebut siap untuk memijah hal ini ditandai dengan warna kuning yang cerah kemudian jika di letakkan pada cawan petri yang ada aquadestnya maka telur ikan tersebut mudah untuk memisahkan diri antara telur yang satu dengan telur yang lainya.
            Sedangkan untuk sampel yang kedua hasilnya adalah ikan yang meiliki gonad yang sedang berkembang, hal ini bisa ditandai dengan warna gonad yang memudar dan belum terpenuhi seolah gonanya belum sempurna, kemudian jika diletakkan pada cawan petri yang berisikan air, maka penghitungan gonad agak sedikit membutuhkan waktu yang lama, hal ini disebabkan bahwa gonad ikan tersebut belum matang, terkadang pada saat melakukan pemisahan gonad (menghitung gonad) banyak terdapat telur-telur yang pecah karena susah untuk dipisah-pisahkan, karena masih terikat oleh lendir-lendir yang membuat gonad tersebut kompak dan terikat satu sama lainya, untuk gonad seperti ini berarti ikan tersebut belum siap untuk memijah.
            Dalam praktikum ini  fekunditas total dan fekunditas relatif juga dihitung. Dengan tujuan untuk mengetahui kematangan lanjut ( tingkat kematang akhir ), untuk fekunditas itu sendiri adalah jumlah telur dalam tubuh ikan sampel dengan Rumus pertama FT=n.(Wt/Ws) Rumus ke dua FR=(n.Wt/Ws)/BW. Dimnan n = jumlah telur rerata pada sub sampel, Wt = berat gonad seluruhnya (sepasang, g), Ws = berat rerata sub sampel gond /ovari (g), dan BW = bobot tubuh ikan tanpa gonad (g). Dan hasilnya untuk ikan pertama FT = 836, dan untuk FT = 793,76. Sedangkan untuk ikan kedua untuk nilai FT = 4, 7033, dan FR = 4,736.
            Kematangan serta fersentase dari volume gonad pada ikan tertentu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya faktor makanan, kalau ikan tertentu menapatkan makanan yang mencukupi nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan tersebut, karena hal itudapat memicu kematangan gonad ikan, kemudian lingkungan suhu, keasaman juga dapat mempengaruhi kematangn gonad pada ikan tersebut, selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi fisik ikan tersebut apakah ikan dalam keadaan stres atau normal.


BAB V
PENUTUP
 5.1 Kesimpulan   
            Adapun yang dapat disimpulkan dari hasil praktikum di atas adalah,
Ø  Gonad yang sudah siap memijah ( matang ) akan terlihat kuning dan mudah untuk dipisah-pisahkan ketika di dalam air.
Ø  Gonad yang belum matang ( dalam berkembang ) akan berwarna kecoklatan belum terlihat sempurna menjadi telur serta susah untuk dipisah-pisahkan meskipun dalam air.
Ø  Gonad yang diidenifikasi hanya setengah dari jumlah total keseluruhan gonad.
Ø  Kematangan gonad dipengaruhi faktor lingkungan dan faktor makanan.

5.2 Saran
            Kedepannya harus lebih baik, dan konsisten. Agar mendapatkan hasil yang lebi baik dan memuaskan sesuai dengan harapan.




DAFTAR PUSTAKA

Effendie, 1979. Prinsip dan prosedur statistika. Suatu pendekatan biometrik. Edisi
            kedua. Gramedia Pustaka Utama: 748 hal.
Fujaya, 2005. Analisis hasil tangkapan sumberdaya ikan ekor kuning (Caesio cuning) .
            University Maritime Raja Ali Haji.
Lam, 1983 Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas

Rustidja, 2001. FAO Fish. Tech. Pap. 101/1, ICLARM, Roma.: 255 pp.

Uma, 2009. Perikanan. Institut  Pertanian Bogor, Bogor.
Introduction to tropical fish stock assessment. Part 1 – Manual.



LAMPIRAN

Tabel. 4 Perhitungan Fekunditas Total (FR)
no
n
Wt
Ws
FT= n. (Wt/Ws)
1
418
5,5
2,75
836
2
484
4,1
2,05
968

Tabel. 5 Perhitungan Fekunditas Relatif (FR)
no
n
Wt
Ws
BW
FR=(n.Wt/Ws)/BW
1
418
5,5
2,75
183,25
4,56207367
2
484
4,1
2,05
171,7
5,637740245

Tabel.6 perhitungan IKG
no
BG
BI
IKG=(BG/(BI-BG)x100
1
5,5
183,25
3,094233474
2
4,1
171,7
2,446300716

 










           













Tidak ada komentar:

Posting Komentar